Minggu, 21 Juni 2009

IPNU & IPPNU Diminta Lebih Banyak Adakan Pelatihan Kader

BREBES - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) diminta lebih memperbanyak mengadakan pelatihan kader. Pelatihan yang dimaksud harus dilakukan mulai dari tingkat pusat hingga tingkat desa.

Permintaan itu disampaikan sesepuh IPNU yang juga Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, KH Masruri Abdul Mughni, dalam pidatonya pada pembukaan Kongres ke-16 IPNU dan Kongres ke-15 IPPNU di Pesantren Al Hikmah 2, Brebes, Jateng, Sabtu (20/6) siang.


Abah Masrur—begitu panggilan akrabnya—mengaku bangga telah pernah menjadi kader IPNU. “Saya bangga pernah menjalani proses belajar di IPNU pada era 1950-an. Banyak momen yang tak dapat saya lupakan,” ungkapnya.

Namun, di saat yang sama, ia juga menyatakan prihatin dengan semangat berorganisasi IPNU atau IPPNU saat ini. Pasalnya, ia mengaku jarang mengetahui adanya berbagai pelatihan dan pendidikan kader akhir-akhir ini. Padahal, hal itu sangat penting.

“Dulu, IPNU dan IPPNU menyelenggarakan pelatihan sampai tingkatan pengurus ranting (tingkat desaa). Sekarang ini, pelatihan jarang dilakukan,” ujar Abah Masrur yang juga pengasuh pesantren dengan 2.000 santri itu.

Ia menginginkan agar IPNU dan IPPNU intensif menyemarakkan pengkaderan di pesantren dan lembaga milik NU. “IPNU-IPPNU itu pagarnya NU, untuk memberi landasan dan melanggengkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” terangnya.

Selain itu, imbuhnya, IPNU dan IPPNU jangan sampai lupa pada basis pengkaderannya, generasi muda dan santri. “Kalau dirunut sejarahnya, IPNU itu lahir di tengah kultur pesantren. Maka, sekarang pas kalau IPNU dan IPPNU melaksanakan agenda di pesantren, bukan di hotelm,” katanya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU, Idy Muzayyad, menyatakan bahwa pilihan tempat kongres IPNU merupakan kesepakatan yang disengaja. “Kami memang ingin memperkuat pengkaderan di pesantren. Kalau awalnya lahir dari kultur pesantren, momentum ini membuktikan kalau IPNU dan IPPNU kembali ke pesantren,” ungkap dia.

Idy menginginkan, siapa pun yang terpilih sebagai ketua baru, hendaknya lebih baik dari sekarang dan siap melanjutkan program kerja positif yang telah dicanangkan pengurus lama. “Program kerja unggulan yang telah kami lakukan, sebaiknya diteruskan dengan tingkat pembenahan lebih baik,” pinta aktivis asal Magelang itu. (ziz) (ipnu.or.id)

[+/-] Selengkapnya...

Menkominfo Mengaku Mantan Kader IPNU

BREBES - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Muhammad Nuh, mengaku mantan kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Hal itu dikatakannya di hadapan 2.500 peserta Kongres ke-16 IPNU dan Kongres ke-15 Ikatan Pelajar Putri NU di Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (20/6) siang.

"Saya juga pernah merasakan berproses (baca: menjadi kader dan aktif) di IPNU, ketika masih remaja," ungkap Nuh disambut tepuk tangan para hadirin yang merupakan utusan pimpinan wilayah serta pimpinan cabang IPNU dan IPPNU se-Indonesia itu.


Ia tak menyebutkan secara rinci tentang ke-IPNU-annya. Namun, mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya itu selama ini memang dikenal sebagai warga NU. Ia pun kini masih tercatat sebagai A'wan (anggota Syuriyah) Pengurus Wilayah NU Jatim periode 2007-2012.

Nuh yang kehadirannya mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu lebih banyak berpesan pada para kader IPNU atau IPPNU agar terus belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Ia mengimbau kedua organisasi pelajar dan santri NU itu tidak terlibat dalam politik praktis, utamanya dalam Pemilu Presiden pada 8 Juli nanti.

Menurutnya, setiap generasi memiliki peran dan kesempatan masing-masing. "Berkiprah di politik itu ada masanya. Untuk saat ini, lebih baik generasi muda yang tergabung dalam IPNU dan IPPNU hendaknya menyiapkan diri dengan keterampilan, keilmuan dan modal sosial," pintanya.

Lebih lanjut, Menkominfo mengungkapkan, sebagai landasan organisasi dan pengembangan pribadi, generasi muda hendaknya memperbaiki tiga bidang. "Pelajar sebaiknya memperhatikan tiga ranah, yakni mind, life skill dan personality," ujarnya. Ditambahkan, "Generasi muda hendaknya memiliki pemikiran terbuka dan kreatif."

Pikiran terbuka, katanya, akan menjadikan generasi muda mampu menghadapi segala tantangan, membuka peluang dan terus meningkatkan kapasitas diri. Selain itu, generasi masa depan sebaiknya memiliki keterampilan yang dapat diandalkan.

“Kalau kita tidak punya keterampilan, maka hanya akan menambah jumlah manusia, tanpa kontribusi jelas", kelakarnya.

Ia juga menginginkan agar generasi muda memiliki kepribadian yang bermoral. "Pribadi yang bermoral dan kreatif, akan membuka pintu keberhasilan. Selalu ada opportunity bagi generasi yang cerdas," ucapnya. (ziz) (ipnu.or.id)

[+/-] Selengkapnya...

Ciri Khas Kesederhanaan NU Harus Dipertahankan

BREBES - Selama ini, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai komunitas yang mempunyai ciri khas kesederhanaan. Karakter tersebut harus terus dan selalu dipertahankan sampai kapan pun, kata Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, KH Masruri Mughni.

“Kalau tidak sederhana, maka bukan NU,” ujar dia dalam pidatonya pada pembukaan Kongres ke-16 Ikatan Pelajar NU dan Kongres ke-15 Ikatan Pelajar Putri NU di Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (20/6) siang.


Abah Masrur—demikian ia akrab disapa—mengatakan hal itu berkaitan dengan penyelenggaraan kongres di pesantrennya yang serba sederhana. “Beginilah keadaannya, sangat sederhana. (pesantren) ini bukan hotel, juga bukan istana,” tandasnya.

Namun demikian, imbuh Kiai yang mengasuh sekira 2.000 santri itu, kesederhanaan NU selama ini justru banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Dengan kesederhanaannya pula, kiprahnya dalam membangun bangsa dan negara tak bisa dikecilkan.

Karena itu, ia meminta IPNU dan IPPNU dapat terus mewarisi, menjaga dan melestarikan kesederhanaan itu. “Tidak perlu bermewah-mewah,” katanya. Sebab, kedua organisasi itu pun didirikan dari sebuah kesederhanaan.

Abah Masrur juga mengingatkan bahwa NU identik dengan kemandirian. Sejak dulu, para ulama dan kiai NU secara mandiri mendirikan dan mengasuh pesantrennya, tidak tergantung pada siapa pun.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU, Idy Muzayyad, dalam kesempatan yang sama, mengiyakan pendapat tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan Kongres kali ini adalah dalam rangka mengembalikan dan mempertahankan kesederhanaan itu.

“(penyelenggaraan Kongres) ini adalah kesengajaan, bukan tidak disengaja. Bukan juga karena persoalan biaya. Kita ingin mengembalikan kesederhanaan itu,” ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, penyelenggaraan kongres tersebut juga sebagai upaya mengembalikan IPNU atau IPPNU pada tugas dan fungsi utama kaderisasi NU di tingkat sekolah, madrasah atau pesantren. “Istilahnya, IPNU, IPPNU back to pesantren (kembali ke pesantren),” tandasnya.
(ipnu.or.id)

[+/-] Selengkapnya...